Sabtu, 28 Mei 2011

Hiburan malam mahasiswa Yogyakarta

Kehadiran diskotik dan café yang menawarkan musik house memang bukan hal yang asing bagi sebahagian mahasiswa pecinta hiburan malam yang seperti itu. Bayak diskotik dan café yang ada di Yogyakarta tidak semata-mata bentuk hiburan seperti ini di tawarkan kepada kalangan eksekutif saja. Melihat sasaran pasar Yogyakarta merupakan banyak didominasi oleh kalangan muda atau mahasiswa, maka kebutuhan akan ragam bentuk hiburanpun turut disuguhkan di kota Yogyakarta oleh pemodal yang datang bersamaan dengan arul globalisasi. Sehingga sebahagian mahasiswa terpasilitasi oleh pemodal dengan sunguhan bentuk hiburan ala Barat atau lebih dekenal di kalangan mahasiswa dengan sebutan “tempat dugem”.
 
Sekarang ini, berdasarkan hasil pengamatan peniliti di kota Yogyakarta, keberadaan diskotik dan café yang menawarkan musik house, hapir semuanya tempat-tempat hiburan tipe ini cenderung berpromosi untuk kalangan mahasiswa ekonomi menegah keatas. Hal ini terlihat dari, pertama harga tiket masuk ke diskotik minimal Rp. 50.000. kalau ada “haven’t” melonjak menjadi hargat tiketnya Rp 80.000. sampai dengan Rp.100.000, tempatnya seperti di Chesar, Boshe, Republik, Hugos, Embessi. Kedua: semua harga minuman dan rokok yang gampang di temukan di luar diskotik, ketika sudah masuk kedalam diskotik bisa mencapai harganya naik menjadi 200% sampai 400%, dibandingkan dengan harga normal dari pasaran. Contoh rokok Sampoerna Mill, Malboro, dll, minuman Spriet, fanta, cola-cola dan dll.

Perkembangan diskotik dan café house Musik di Yogyakarta memang sangat subur. Fenomena ini bisa dilihat dengan banyaknya tempat-tempat hiburan yang berdiri di kota Yogyakarta yang hanya luas lebih dari 32,8 km², dengan jumlah tempat hiburan gemerlap 11 tempat, di antaranya Chesar, Boshe, Republik, Hugos, Embessi, “JJ” Rumah Musik, Bunker, The Jet Zet, Goedang Musik (sekarang Sudah Tutup), The Club dan Papilon. Dari gambaran perbandingan ini, maka terlihat jelas bahwa sebahagian mahasiswa Yogyakarta juga mencari hiburan yang berbentuk gemerla ala Barat. Perkembangan mahasiswa yang cenderung memilih hiburan tipe ini tidak semata-mata karena faktor ingin meniru saja, melaikan juga faktor terjadinya peluang “bisnis yang lebar” yang di garap oleh pemodal, khususnya Yogyakarta pasarnya adalah untuk kalangan mahasiswa.
 
Untuk melihat mahasiswa itu sendiri yang berpartisipasi dalam dunia gemerlap dapat dilihat atau di kategorikan mahasiswa tersebut menjadi tiga kelompok Pertama, mahasiswa yang dugem “karena coba-coba”, kedua “karena telah terbiasa” dan ketiga “karena prestise”. mahasiswa yang masih dalam kategori coba-coba belum bisa disebut sebagai penikmat dugem. Sebab, mereka belum menjadikannya sebagai kebutuhan yang harus dia penuhi. Namun, untuk mengarah ke level terbiasa atau prestise, kemungkinannya sangat besar.“Kalau level terbiasa, biasanya sudah menjadikan dugem layaknya hobi yang sulit untuk ditinggalkan. Di tempat dugem tersebut dia sudah memiliki gank atau kelompok. Sedangkan, level prestise lebih banyak menjadikan dugem sebagai gaya hidup”.

Fenomena dugem belakangan ini memang sangat melekat dalam diri mahasiswa. menurut saya, “Jangan ingat Tuhan kalau sedang dugem. Beragama itu sewajarnya saja, sebab kalau semua yang kita lakukan kita ukur dengan agama, kita akan salah terus. Apalagi dugem.

Menurut hasil penelitian menunjukkan 80 persen mahasiswa pernah memasuki tempat dugem. Bahkan, 70 persen diantaranya termasuk dalam penikmat dugem. Dan, 70 persen dari mereka karena terbiasa dan prestise”, 70 Persen Mahasiswa Penikmat Dugem

Kategori Hiburan Malam yang Diminati oleh Mahasiswa
Hiburan malam yang paling populer dan menjadi daya tarik tersendiri di kalangan mahasiswa Yogyakarta bisa di bedakan menjadi dua, walaupun masih banyak hiburan lain yang tersedia di kota gudeg ini untuk kalangan mahasiswa. Namun yang saya sebutkan di sini yang populer saja, dan dua tempat ini merupakan jenis hiburan yang sangat banyak menyedot mahasiswa untuk berkecimpung di dalamnya, di antaranya jenis hiburan (1) ivent terbuka, (2) event tertutup. Dua karakter ivent ini mempunyai cirikhas masingn-masing, walaupun dua ivent yang digemari ini masih berhubungan dengan musik.
1. Ivent Terbuka:
Ivent tebuka biasanya di pertunjukan di luar gedung, bisa di lapangan, alun-alun utara Kraton, Stadion Bola Mandala Krida, Halaman Universitas, depan Kantor yang ada halamanya, dan tempat-tempat lain di luar ruangan. Biaya kontribusinya masuk sangat murah dan terjangkau antara Rp 5000 s/d Rp.25.000. pada waktu-waktu tertentu ivent terbuka ini juga terkadang tidak ada kontribusi masuk alias gratis, biasanya telah disponsori oleh sebuah produk yang tekenal di Indonesia, seperti sponsor dari Sampoerna Mild dengan Iven bertajuk “Sondrenalin”, Jarum Super, Yamaha, dan lain-lain.
Pertimbangan mahasiswa melilih hiburan yang seperti ini karena murah, terjangkau dan terkadang kualitasnyapun sangat bagus. Misalnya ivent seperti ini mendatangkan band-band ternama di Indonesia, seperti Dewa 19, Ari laso, Padi, Jikustik, Bomerang, Coklat, dan masih banyak band-band papan atas yang mewarnai hiburan malam Yogyakarta.
Pada tahun 2003, sebuah ivent yang di adakan oleh Sampoerna Mild Sondrenalin yang di adakan di Alun-alun Utara dengan mendatangkan hampir semua Band papan atas Indonesia untuk menyemarakan kota Yogyakarta, acara tersebut di mulai dari jam 10:00 WIB pagi hingga sampai penutupan jam 24:00 WB yang di tutupi oleh penyanyi legendaris yaitu Iwan fals. Dan setelah itu pernah juga pada tahun yang sama Band “riff” yang turut memeriyahkan lapangan depan universitas UNY,  Dan ivent-ivent seperti ini masih didominasi pengunjungnya oleh mahasiswa secara mayoritas dan masih berlangsung sampai sekarang dengan format yang sama.
  1. Ivent Tertutup
Di ivent tertutup sepeti (diskotik Dan Café), band local dan band-band papan atas Indonesia masih juga turut memeriahkan di dalam ivent tetutup ini, namun ivent tetutup ini tidak mengenal atau jarang mengenal Gratis, kecenderungan mahal, tempatnya di dalam ruangan atau gedung, Ciri khasnya lagi lebih mewah, ada pawang musik house yaitu DJ (Disk Djokey), terdapat bar yang meracik minuman yang berakohol dan non-alkohol (alkoholik), terdapat pencahayaan yang mengikuti musik (pencahayaan: lighting), dan masih banyak cirikhas lain yang tentu berbeda dengan ivent terbuka.
Mayoritas “wajah” diskotik dan kafe, dari luar sudah terlihat remang-remang dengan pencahayaan yang tidak cukup terang. Lapangan depan hampir pasti berfungsi sebagai lokasi parkir para pengunjung. Beberapa langkah dari parkiran, terdapat loket pembelian tiket masuk (cover charge) berdiri kokoh. Harga tiket antara satu tempat dengan tempat lain berbeda. misalnya di Papillon satu tiket berharga Rp 25.000. Sementara di Kafe, pengunjung tidak ditarik biaya masuk sehingga tidak ada tempat khusus untuk itu.
Di diskotik dan café terdapat peraturan khusus yang mengaruskan pengunjung memasuki area hiburan tidak satu pun diperbolehkan mengenakan jaket, membawa tas, kamera digital dan kamera video. Semua barang-barang tersebut harus dititipkan di loker penitipan yang dijaga oleh karyawan bagian keamanan. Namun ada juga berapa pengunjung yang terlihat membawa HP yang fiturnya ada kamera Cabture dan kamera Video. Biasanya mereka mengabadikan sesuatu moment untuk koleksi pribadi. Memasuki bagian dalam area hiburan, para pengunjung memesan minuman sesuai selera, baik beralkohol ataupun tidak mengandung alkohol (alkoholik) di meja bartender. Ada dua jenis tempat nongkrong di dalam ruangan: yaitu di kursi-kursi sudut (sofa) biasanya terlebih dahulu melakukan pemesanan tempat terlebih dahulu, plus meja yang berjejer di beberapa tempat dan kursi berukuran plus meja kecil bulat, pengunjung dipersilakan memilih.
Tata letak diskotik dan kafe tidak jauh berbeda. Hanya penyajian musik yang berbeda. Di salah satu sudut diskotik, misalnya di diskotik Papillon, disediakan anjungan untuk DJ (Disk Djokey) memainkan musik dengan beat-beat menghentak naik-turun. Berdampingan dengan lokasi DJ, di sebelah kanan dan kirinya terdapat panggung khusus untuk para penari gadis seksi (sexy dancers) berbaju minim yang membangkitkan perhatian para penonton dan menikmati goyangannya. Di kafe, panggung-panggung itu beralih fungsi menjadi tempat grup band menghibur pengunjung. Di dalam kafe digunakan pencahayaan remang-remang untuk membawa perasaan intim antara sesama pengunjung. Sementara di diskotik menggunakan lampu disko (kerlap-kerlip/ Lighting:pencahayaan) menyerasikan alunan musik yang diatur DJ.

1 komentar: